Saya harus kerja kantoran, benarkah?

Blogs

Edisi 20, Jum’at 6 November 2015

Pemandangan ini di satu sisi bisa dilihat sebagai kegiatan heroik, di sisi lain bisa dilihat sebagai menyedihkan.  Suami istri yang berdesakan di kereta, ataupun tampak bosan di kemacetan untuk bisa segera pulang dan…..ternyata, ketika sampai di rumah menemukan anak-anaknya sudah pada tidur, karena mereka sampainya larut malam.  Padahal besok pagi pun, mereka hanya bisa mengecup kening anak mereka yang masih tertidur sebelum berangkat.

Mereka sangat yakin bahwa income harus datang dari keduanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.  Paling tidak, suami istri Merril yang menulis buku fenomenal, First Things First bersama Stephen Covey menyatakan bahwa kesimpulan itu tidak sepenuhnya benar karena hal-hal berikut ini, pada buku mereka yang berikutnya, Life Matters (hal 56):

Adanya pengeluaran ekstra ketika keduanya bekerja:

  • Biaya terkait pekerjaan seperti pakaian dan perhiasan
  • Biaya perjalanan
  • Biaya pengasuhan anak ketika orang tua tidak ada
  • Biaya makan di luar yang menjadi lebih sering
  • Biaya perawatan rumah
  • Dan, juga tidak kalah pentingnya, biaya rasa bersalah, berupa mainan atau gift bagi anak-anak.

Tidak hanya pendapatan yang perlu dilihat secara lebih kritis.  Side job pun perlu kita pertimbangkan dengan baik.  Hilangnya waktu untuk dekat dengan anak-anak belum tentu dapat dikompensasikan dengan tambahan pendapatan bagi anak-anak.

Kadang yang terjadi adalah seperti ini: karena telah banyaknya materi yang dikumpulkan, orang tua sanggup mengirimkan anaknya sekolah ke luar negeri.  Namun, tanpa investasi relasi yang memadai sebelumnya, anak yang sudah ‘setengah asing’ bagi orang tuanya tersebut, benar-benar menjadi orang asing ketika ia kembali.

Kejernihan motif muncul dari kejujuran dalam melihat alasan kita bekerja.  Tidak dapat dipungkiri bekerja bisa menjadi sumber kebermaknaan tersendiri: prestasi yang di-reward oleh kompensasi dan karir, pertemanan, makan di luar, trip ke luar kota.  Bandingkan dengan kesibukan, kepusingan dan kejenuhan menghadapi pekerjaan di rumah:  menjaga anak, membersihkan rumah.

Tanpa kemampuan untuk memaknai kedekatan relasi dengan anak-anak, kita akan terjebak, seperti juga masyarakat pada umumnya, pada menghargai bekerja di kantor jauh lebih tinggi daripada aktivitas di rumah.  Akhirnya kita terbiasa untuk bekerja keras, tetapi kesulitan untuk membangun relasi dengan keluarga kita.

Bahkan lebih jauh lagi kita bisa jadi melihat bahwa bekerja dari rumah juga bukan kerja.  Itu hanya sekedar hobi karena tidak ada kemewahan dan gengsi seperti yang didapat di tempat kerja: berangkat dengan pakaian rapi, mengendarai mobil yang bagus dan memasuki kantor yang wah.

Tentunya tidak salah bila Anda menganggap hal tersebut sebagai sebuah hal penting bagi hidup Anda dan ingin memperjuangkannya.  Yang salah adalah ketika Anda tidak memahami dengan baik apa yang dikorbankan untuk mencapai lifestyle tersebut.      Apapun pilihan kita, asal didasarkan atas kejernihan motif dan mengintegrasikan output  dari aktivitas tersebut dengan purpose kita, maka Insya Allah itu pilihan terbaik buat semua pihak dan untuk diri kita sendiri, jangka pendek dan jangka panjang.  Hanya dengan cara itu, anak-anak dan partner kita berterima kasih pada pengorbanan kita.  Dan bukan sebaliknya, melihat kita sebagai orang yang egois hanya mementingkan karir dan ambisi kita semata.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta