Siapa yang mencuri kesenangan kerja?

Blogs

Edisi 10, Jumat, 2 Oktober 2015

Pernah melihat anak kecil yang tengah bermain sendiri?  Bertapa senangnya ia menemukan sebuah benda, memutar-baliknya, membantingnya, bahkan memasukan ke mulutnya.  Ada keasyikan dan ada proses belajar disana.  Lebih jauh lagi, ketika ‘kemampuan bermainnya’ meningkat, proses bermain itu kemudian berubah menjadi proses beraktivitas, berkarya dan kreativitas.

Pernah melihat wajah-wajah yang datang ke tempat kerja?  Wajah-wajah yang sedang bekerja?  Coba bandingkan dengan wajah-wajah anak-anak yang tengah bermain. Berapa banyak yang merasa tempat kerjanya adalah tempat berkarya dan ber-kreativitas?

Kalau Anda merasa perbandingan ini tidak pas.  Coba bandingkan dengan wajah-wajah karyawan yang sedang pulang kerja?

Jelas ada beberapa perubahan yang terjadi dari tampilan wajah dan body language ketika berangkat dan pulang kerja.  Level enerji: pagi masih tinggi.  Sore, low bat.  Tingkat kebugaran: pagi masih segar.  Sore, kelelahan.  Yang paling menarik mungkin ini.  Tingkat kesenangan.  Menurut Anda apakah kita, para karyawan, para pekerja lebih exited di pagi hari atau sore hari?  Lebih exited menghadapi hari kerja atau ketika pulang di sore hari.  Lebih menunggu-nunggu bel masuk kerja atau pulang kerja?

Apa yang ada di tempat kerja, sehingga sebagian pekerja mempunyai reaksi seperti itu?  Apa benar sebagian besar pekerja tidak semangat dalam menghadapi weekdays-nya dan jauh lebih semangat dalam menghadapi weekend-nya?  Apa benar kerja tidak lagi dilihat sebagi ‘area bermain’ yang membawa kesenangan berkarya?  Siapa yang mencuri kesenangan kerja?

Apa memang ada yang disebut kesenangan kerja?  Mungkin itu yang ada di benak sebagian kita.  Inilah yang dirasakan dan dilakukan sebagian orang ketika berangkat ke tempat kerja: kebosanan menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja.  Kekhawatiran dan ketakutan karena hari ini Bos sudah balik dari tugas luar kotanya.  Mencari cara untuk menghindari dead line hari ini.  Menyiapkan diri untuk menghadapi customer yang marah-marah.  Membayangkan kesenangan akan rencana makan siang ke luar bersama rekan kerja.

Kalau itu yang ada di benak kita, tidak heran bila wajah muram-lah yang dibawa ke tempat kerja.

Ini yang sebetulnya bisa didapat dari kerja.  Rasa penasaran karena ada sebuah permasalahan yang menarik yang perlu diselesaikan.  Kesempatan untuk belajar ilmu baru.  Tantangan akan sebuah posisi baru.  Kesempatan menyerap ilmu dari atasan yang pengalaman dan expert.  Kesenangan bekerja sama.  Keasyikan menghasilkan sebuah produk baru.  Coba kita bandingkan seberapa banyak potensi kesenangan ataukan ke-muram-an yang digarap di tempat kerja?

Jadi siapa yang mencuri kesenangan kerja?  Perusahaan-kah?  Atau Atasan?  Atau kita sendiri yang sudah menanamkan keyakinan pada diri kita bahwa yang namanya kerja memang harus susah, semakin susah semakin kita merasa pantas untuk dibayar.  Kalau yang dilakukan senang-senang, itu-mah namanya hobi.

Sungguh menyedihkan bila kita hanya membawa badan ke tempat kerja.  Hati dan semangat kita tinggal di rumah.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta