Stretching dengan Penjadwalan

Blogs

Edisi 128, Selasa 10 Januari 2017

Baik Manajemen Waktu ataupun Produktivitas Diri keduanya tentu sebuah metode untuk mengembangkan diri kita.  Untuk kita melakukan stretching, keluar dari comfort zone kita.  Untuk memastikan kita selalu tumbuh lebih baik dan lebih baik lagi.

Penjadwalan adalah pendekatan rasional pengoptimalan penggunaan waktu.  Dengan cara menganalasis pengalokasian penggunaan waktu kita dan menemukan pola yang lebih optimal dengan memperbanyak aktivitas penting dan impactfull di dalamnya.

Pelaksanaan sebuah jadwal yang optimal, tentu menghadapi berbagai tantangan.  Ada faktor manusia di sini: apakah dia tipe orang yang disiplin atau tidak.  Ada faktor lingkungan kerja: seberapa stabil dan tidak stabilnya lingkungan kerja yang ada  (mengenai ini akan dibahas di edisi yang akan datang).  Ada faktor lingkungan yang predictable, seperti profesi tertentu yang biasa mengalami beban kerja tinggi pada waktu tertentu, seperti akuntan, auditor dan pajak di awal tahun.  Atau mereka yang bekerja di penerbangan dan hotel mengalami peak season pada saat liburan.  Ada juga faktor lingkungan yang unpredictable, force majeur, seperti bencana alam.

Untuk dapat stretching, seseorang memerlukan tekanan atau dorongan.  Tekanan atau dorongan itu bisa datang dari luar diri  atau dari dalam diri.  Ada orang yang membutuhkan tekanan dari luar untuk stretching.  Ada yang tidak.  Gretchen Rubin membahas mengenai hal ini di dalam bukunya Better then Before.

Tampaknya stretching baru optimal ketika orang berada di dalam situasi mendesak.  Layaknya orang yang bisa meloncat tinggi ketika dikejar anjing.  Atau orang perlu diceburin untuk bisa lebih berani berenang.  Dasar dari stretching dalam penjadwalan adalah estimasi waktu yang kita lekatkan dalam suatu aktivitas.  Orang yang disiplin dan high achiever akan berusaha untuk memadatkan jadwalnya, sementara orang yang ingin menikmati harinya, akan berusaha membuat jadwal selonggar mungkin.

Permasalahannya adalah bila jadwal terlalu padat, kita akan cenderung frustasi karena seringkali gagal memenuhinya.  Sementara itu, bila terlalu longgar, maka tidak banyak hal yang bisa kita capai pada hari itu.  Optimizing antara maksimal output dan menikmati hari adalah seni dari penjadwalan.

Stretching seseorang akan optimal ketika kedisiplinan dia bisa diikuti oleh kemampuannya untuk mengelola stres.  Dengan cara itu seseorang akan berani masuk ke banyak tugas dan terus berusaha mengembangkan dirinya dalam optimal stretching tersebut.  Yang penting di sini adalah kemampuan untuk melihat kapan diri kita, fisik dan psikis, sudah tidak mampu lagi menghadapi stretching yang ada.  Tanpa sensitivitas itu, bisa jadi stres kita akan berkembang menjadi stroke atau penyakit serius lainnya.

Tentunya ada pilihan optimasi atau stretching yang lain.  Yaitu orang yang memilih untuk menjalani pola hidup yang lebih longgar dan seimbang, dengan mengoptimalkan alokasi kerja, kreasi dan karya dengan memilih hal-hal yang paling impactfull buat dirinya.  Kelompok ini lebih memilih untuk mendorong dari dalam diri dan menghindari tekanan dari luar sebisa mungkin.

Bila resiko dari kelompok pertama yang melakukan stretching dengan disiplin dan pengelolaan stres, adalah break down fisik ataupun psikis di tempat kerja.  Maka resiko dari kelompok kedua, yang lebih condong pada menikmati hari dan memilih aktivitas yang sangat selektif, adalah un optimal.  Kelompok pertama tidak masalah dengan time limit work.  Kelompok kedua akan lebih senang quality base work (work limit) (silakan baca Antara Time Limit dan Work Limit.  Dalam bagian lain dari tulisan di blog ini, perbedaan ini disebut sebagai Productivity Paced Style.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta