The Loneliness of Our True Selves

Comment

Blogs

Edisi 173, Selasa 26 September 2017

Menurut Anda, apa yang paling menyedihkan yang bisa kita alami dalam hidup kita?  Silakan mencoba membayangkan sepuas hati Anda.  Bila Anda sudah ketemu dengan hal tersebut, coba bandingkan dengan hal berikut ini: Anda baru ketemu dengan jati diri Anda, true self Anda, justru pada moment akhir dari hidup Anda.  Ia terlihat tua dengan kedukaan yang dalam karena merasa tidak pernah disapa, diperlakukan dengan baik, apalagi dikembangkan.  Padahal potensinya luar biasa.

Salah satu kebahagiaan utama yang bisa dicapai seseorang adalah ketika ia bisa mengembangkan dan mengekspresikan true self-nya dengan optimal.  Seperti anak yang dengan bebas bermain dan berekspresi, karena sudah bisa mengendalikan kekhawatiran dia.  Dia memahami bahwa kegagalan hanya satu bagian dari proses bermain.  Satu konsekuensi dari kesediaan kita ikut bermain.

True self kita tidak berhasil kita sapa paling tidak karena ada 3 self lain yang mendominasi diri kita.  Pertama adalah survival self.  Bagian diri kita yang merasa bahwa hidup ini berbahaya sehingga harus selalu berjaga-jaga, mempertahankan dirinya.  Harus selalu mengutamakan keamanan sehingga survival adalah motonya sehari-hari.  Kedua adalah social self, ketergantungan kita akan penerimaan orang lain yang berlebihan, sedemikian sehingga hal tersebut membuat diri kita tergantung pada harapan orang disekitar kita.  Walaupun orang itu memberikan harapan yang tidak masuk akal (mengharapkan kita menjadi hambanya) dan terlebih lagi, orang itu sebetulnya tidak penting bagi kita.

Terakhir adalah Role self, diri kita yang sibuk dengan berbagai peran tanpa sempat mempertimbangkan apa yang kita inginkan.  Apa yang akan kita pilih dan kita ekspresikan bila kita jujur pada diri kita.  Harus menjadi anak yang baik, orang tua yang baik, pasangan yang baik, tetangga yang baik, dan seterusnya.  Tentunya berbuat baik adalah baik.  Tetapi kalau kita hanya mengikuti norma sosial tanpa memperhatikan bagaimana sebetulnya area ekspresi kita di dalamnya, tentu akan melelahkan kita.

Sehingga akhirnya, di hari tua kita, kita baru melepas topeng kita.  Dan baru memahami bahwa memakai topeng itu membuat muka kita nggak nyaman dan nafas kita sesak…sementara di pojok ruangan kita melihat true self kita meringkuk kedinginan dan kesepian.  Seandainya saja…kita tahu bahwa menjadi diri sendiri justru akan membuat kita lebih berprestasi dan bahagia.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *