The Right Way of Stretching: Timing for High Paced

Blogs

Edisi 129, Selasa 17 Januari 2017

Salah satu kunci sukses dari seorang yang memilih High Paced Productivity Style, adalah ‘seni mengelola variasi aktivitasnya’.  Paling tidak dalam 2 timing berikut ini: antara stretching dan istirahat.  Dan antara execution dan reflection.

Sensitivitas dalam kedua timing itu tidak menjadi masalah bagi para Low Paced Productivity Style, karena default mereka yang cenderung mengurangi aktivitas untuk dapat menikmati harinya.  Sementara itu para High Paced, terutama yang didorong oleh rasa khawatir akan kegagalan, akan lebih kurang mampu melakukan monitoring dengan lebih baik.  Meningkatkan monitoring akan kondisi tubuh kita: menurunnya konsentrasi, ketergesaan dalam bekerja (‘yang penting selesai’) yang kemudian menyebabkan kita tidak concern lagi terhadap kualitas, merupakan salah satu indikator bahwa kita sudah perlu beristirahat.

Timing kedua, antara execution dan reflection, lebih sulit dijaga dibanding yang pertama.  Terutama karena seringkali kita merasa sudah optimal padahal masih ada yang bisa kita tingkatkan.  Adalah Tim Ferris yang mengingatkan bahwa kesibukan bisa jadi sebuah bentuk lain dari kemalasan.  Ya kemalasan untuk berpikir dan refleksi.  Kemalasan untuk mengajukan pertanyaan: apakah saya sudah melakukan hal yang penting bagi hidup saya?  (efektivitas) dan apakah saya sudah melakukannya dengan cara yang paling opitmal? (efisiensi).

Salah satu klien dari The Energy Project yang diceritakan di buku Be Exellent at Anything adalah Ernst & Young.  Scwartz dan tim menemukan bahwa akuntan di sana tadinya dituntut untuk bekerja 12 sampai 14 jam per hari pada saat peak periode mereka.  Ia lalu meminta mereka untuk mengambil istirhat dengan ‘lebih serius’ di siang hari sehingga pada saat sore hari dimana mereka biasanya bekerja dengan enerji yang rendah, enerji mereka masih memadai untuk bekerja dengan optimal (hal 17).

Dalam penugasannya sebagai konselor di University of California, Berkeley, Neil Fiore tertarik untuk memahami perbedaan antara para mahasiswa Doktor yang bisa menyelesaikan disertasinya tepat waktu dan mereka yang tidak.  Kesimpulan yang ia tarik adalah, kelompok kedua selalu merasa harus bekerja terus, harus sibuk terus, menunda aspek hidupnya yang lain untuk menyelesaikan tesisnya.  Dengan kata lain stretching terus-menerus.  Sementara kelompok pertama lebih bisa menyeimbangkan kehidupannya.  Fiore kemudian menuliskan kesimpulannya ini di bukunya Now Habit, yang akan kita resensi di akhir bulan ini, di halaman 82.

Kepada Alan, salah satu dari mahasiswa tersebut, kemudian Fiore mengatakan bahwa ia mengharapkan Alan hanya menggunakan waktunya untuk disertasi maksimal 5 jam per hari, 20 jam per minggu.  Awalnya Alan kaget dan marah dengan permintaan tersebut.  Padahal selama ini walaupun ia mengambil sikap sangat fokus dalam mengerjakan disertasinya, ia hanya berhasil menggunakan waktu 5 jam per minggu untuk itu.  Ia selalu berhasil menemukan alasan untuk menundanya (procrastination).  Ternyata justru dengan nasehat tersebut ia dapat lebih menikmati hidupnya dan dengan berbekal enerji tersebut mengerjakan disertasinya dengan lebih baik. (halaman 125).

Ibarat menyetir, seorang sopir yang baik, tahu kapan bisa menginjak pedal gas secara penuh, kapan menariknya, me rem, atau bahkan mengistirahatkan mobil.  Menyetir dengan niat untuk terus-menerus menginjak pedal gas secara penuh hanya akan merusak mobil itu dan bahkan berakibat pada kecelakaan.

Menarik kaki dari pedal gas diperlukan untuk mengajukan berbagai pertanyaan berikut: apakah aktivitas ini yang terpenting, apakah ada short cut dari aktivitas ini, apakah saya mengerjakan dengan cukup keterlibatan, apakah ini aktivitas yang tepat mengingat enerji saya saat ini, dan seterusnya.

By nature mereka yang high paced productivity style umumnya mempunyai banyak enerji sehingga mereka tidak masalah untuk dapat mengerjakan banyak hal.  Tapi tanpa awareness yang baik untuk mengatur timing-nya, kapan stretching, kapan istirahat.  Kapan executing dan kapan reflecting.  Maka hasil yang dicapai tidak akan optimal.  Kalau tidak malah membahayakan.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta