Tujuan Hidup dan Self Limiting Belief

Blogs

Edisi 91, Selasa, 12 Juli 2016

Ada banyak cara untuk men-define tujuan hidup kita dengan lebih comprehensive.  Di dalam POW factors tujuan dijabarkan sebagai spiritual, psikologi dan karya.  Kita dapat juga melihat purpose kita dari dimensi hidup yang kita ingin capai: keluarga, teman, sosial, intelektual, dll.  Dengan menjabarkan multy perspective hidup ini dengan baik, kita akan lebih bisa mendapatkan gambaran purpose kita dengan lebih komprehensive.

Memulai dengan tujuan hidup akan men-stretch kapasitas kita.  Contoh untuk hal ini bisa kita ambil dari berbagai bidang.  Kebanyakan orang-orang yang telah mentransformasi dirinya dari ‘nobody’ menjadi dikenal, diakui kemampuan dan kontribusinya dan mendapat respect dari banyak orang, fokus pada tujuan hidupnya dan karenanya men-challange dan men-stretch dirinya dalam proses mencapainya.  Kita bisa sebut Jokowi atau Obama dalam politik.  Atau Chairul Tanjung, Jeff Bezoz, Jack Ma, dalam konteks pengusaha.  Atau bisa juga Sri Mulyani pada area akademisi.

Saya yakin bahwa untuk mencapai purpose mereka, maka mereka mendorong dirinya, mendorong kapasitas dirinya sampai ke limit yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.  Disinilah kita perlu hati-hati dengan apa yang suka disebut sebagai self limiting belief.  Persepsi dan keyakinan kita akan batas kapasitas kita.

Adalah lebih baik meletakan fokus kita pada apa yang ingin kita capai daripada pada mencoba mencari tahu kapasitas kita.  Memahami kapasitas lebih baik dilakukan dalam mencari preferensi, minat dan bakat kita.  Dan jangan terlalu fokus pada memahami batas kemampuan kita.

Ya.  Saya paham apa yang Anda bayangkan.  Saya juga membayangkan hal yang sama.  Manusia mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menghindari kejatuhan, menghindari rasa sakit, menghindari kegagalan.  Tetapi justru disanalah salah satu sumber self limiting belief kita, yaitu kita tidak paham bahwa membayangkan rasa sakit dari jatuh itu lebih menyakitkan dari jatuh itu sendiri.  Kalau anda sudah mempunyai burning desire akan suatu cita-cita tertentu yang sesuai dengan minat dan kemampuan Anda (bukan batas kemampuan lho), dan Anda sudah menemukan makna dalam area itu, maka go for it…. at your pace…

Jadi pacing ditentukan setelah arah ditetapkan dan tujuan diletakan setinggi langit.  Sisanya nikmati perjalanan, nikmati pacing Anda dan pahami bahwa direction lebih penting dari hasil.  Yang terpenting adalah memahami bahwa kita sudah melakukan yang terbaik hari demi hari, detik demi detik.

Kebanyakan orang yang meletakan batas yang rendah pada kemampuan dirinya, akhirnya berujung pada men-discount cita-citanya, yang sayangnya berkelanjutan.  Dari satu discount ke discount lain, sampai akhirnya dia meyakini bahwa ia hanya mengendarai sebuah mobil butut, sehingga memacunya dengan pelan… Padahal dia berada di atas formula 1 dan di atas track yang lurus dan halus. Wah….

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta