Unscheduling

Blogs

Edisi 132, Selasa 31 Januari 2017

Tanpa kita sadari, sebetulnya hari kita telah terisi oleh banyak kegiatan yang ‘harus’ kita lakukan.  Kebanyakan pendekatan penjadwalan menyarankan untuk memulai dari sebuah ‘kertas kosong’, sebuah jadwal kosong.  Fiore, seorang konselor, menemukan bahwa ini lah yang menjadi salah satu sumber dari rasa frustasi.  Ketika seorang meletakan demand berlebihan ke dalam jadwalnya karena ia mengabaikan rutinitas yang sudah ada.

Fiore dalam bukunya The Now Habit, menyarankan bahwa dalam penjadwalan, kita melakukan unscheduling, yaitu mengisi jadwal kita dengan (hal 126):

  • Dengan aktivitas yang ‘sudah ada’: makan, tidur, rapat, perjalanan, janjian, dll.
  • Memasukan aktivitas istirahat, hobi, ‘free time’
  • Sosialisasi dengan teman
  • Menjaga kebugaran: olah raga

Buat pembaca yang mengalami over demand, pasti akan merasa pendekatan ini tidak masuk akal.  Karena tanpa sebagian aktivitas tersebut saja, jadwal saya sudah penuh, apalagi memasukan aktivitas tersebut ke dalam jadwal.  Dan bukankah ini bertentangan dengan pendekatan first things first Steven Covey yang menyarankan memulai dengan  mengisi wadah (jadwal) kita dengan batu besar?.

Fiore tentu memberikan saran tersebut karena dari pengalaman konselingnya.  Ia menemukan, justru kita memerlukan ‘sebuah jadwal dan hari yang menyenangkan’ untuk bisa memiliki enerji mengoptimalkan hari kita.  Ia menemukan ketika seseorang merasa harinya begitu padat dengan hal yang tidak menyenangkan, maka mulailah ia melakukan penundaan terhadap aktivitas pentingnya, sehingga akhirnya membuat harinya tidak optimal.

Optimasi hari tidak selalu berarti menghilangkan aktivitas ‘kurang penting’ dan memperbanyak aktivitas penting.  Ia bisa berarti membela aktivitas kurang penting yang menyenangkan agar membuat kita exited dengan hidup kita, sehingga kita juga bisa merasa senang menjalankan aktivitas penting kita.

Lalu mengenai filosofi ‘batu besar’ dari Covey.  Sepanjang yang saya pahami yang disebut batu besar oleh Covey justru sesuatu yang paling bernilai bagi hidup kita.  Sesuatu yang membuat kita merasa hidup.  Dan itu belum tentu pekerjaan.  Dia bisa jadi waktu untuk keluarga, agama, pengembangan diri, dll.  Bila ini pemahamannya, maka sekali lagi, optimasi penjadwalan tidak selalu berarti kuantitas, tetapi kualitas dan sebuah kehidupan yang berimbang.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta