Win Individu: Gap Kompensasi dan Kompetensi

Comment

Blogs

Edisi 237, 23 Oktober 2018

Gap kompensasi.  Gap ini terjadi karena gabungan antara faktor internal: kemampuan kita memahami, mengoptimalkan dan menjual kompetensi yang kita miliki dengan faktor eksternal: peluang yang ada.  Bila seseorang berhasil menemukan, mengoptimalkan dan menjual dengan baik maka ia akan mendapatkan return yang optimal dari waktu dan enerji yang ia keluarkan.

Tentunya terdapat berbagai kompleksitas dalam memahami hal ini.  Terkait dengan nature kompetensi kita, terkait dengan nature profesi yang kita pilih, terkait dengan bagaimana dinamika nilai pasar dari kompetensi kita tersebut.  Akan sangat panjang kalau berbagai hal tersebut dibahas di sini.  Ketika kita sudah memilih sebuah profesi tertentu, makin lama kita akan makin memahami dinamika yang ada dan cara bermain di sana.

Rumus sederhana dalam menutup gap ini adalah terus mengeksplorasi kompetensi yang kita miliki dan bagaimana memasarkannya dengan optimal.  Pada ujungnya kita akan mendapatkan formulasi minimax kita: minimal waktu yang kita pakai, maksimal hasil yang kita dapat.

Gap kompetensi.  Kompetensi yang dimaksud di sini bukan dalam arti kompetensi yang ‘mentah’, tetapi kompetensi yang sudah diolah sedemikan rupa sehingga menjadi keunggulan kompetitif.  Tidak jarang kita temui orang yang pintar dan multy talented, sehingga banyak hal bisa ia lakukan dengan baik, namun ia sendiri kemudian bingung mengenai apa yang ingin ia capai dalam hidup.  Ini berarti ia memiliki banyak kompetensi namun ia belum berhasil mengolahnya sehingga bisa dia gunakan untuk mendapatkan pendapatan yang optimal.

Kompetensi ‘matang’ adalah kalau seseorang bisa menghasilkan sebuah karya yang unik dia, atau profesi yang cukup spesifik, atau bahkan bisnis yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dia.  Ini ibarat pebisinis yang sudah tahu dia sebaiknya bermain di bisnis apa di pasar yang mana.  Atau seorang chef yang sudah menemukan ketrampilan uniknya, sehingga expertisenya dalam masakan tertentu diakui. Mempunyai kompetensi ‘matang’ memerlukan proses ekplorasi terhadap kemampuan dan peluang yang ada.

Gap kompetensi terjadi ketika kita belum menemukan kompetensi apa yang akan kita kembangkan yang bisa kita olah menjadi pendapatan pada level yang kita inginkan.  Ada proses pencarian di sini.  Ada proses coba dan salah, serta kumpulan pengalaman yang bisa membawa ke hasil yang lebih tinggi.  Lalu bagaimana kalau kita masih jauh dari sana?

Ada faktor pendorong dan penariknya.  Pendorong adalah minat kita, atau sering disebut juga sebagai motivasi intrinsik atau dalam bahasa lebih populer adalah passion, yang sebetulnya gabungan antara minat dan kompetensi.  Dan ada faktor penariknya yang berupa dream kita.  Mimpi kita.  Purpose kita.  Apa yang menjadi tujuan hidup dan karir kita.  Kedua faktor tersebut akan kita bahas berikut ini.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *