Win Individu: Gap Minat

Comment

Blogs

Edisi 241, 13 November 2018

Gap Minat.  Melakukan aktivitas yang berorientasi dengan minat kita adalah suatu kenyamanan tersendiri.  Ia adalah bagian dari saat ini.  Ia adalah bagian dari comfort zone.  Ia seperti menjalankan hobi yang menghasilkan.  Range aktivitas yang kita minat-i umumnya lebih terbatas dari range aktivitas yang kita mampu lakukan (kompetensi).  Minat bisa diartikan sebagai ‘rangkaian aktivitas yang membuat kita mudah tenggelam (flow) di dalamnya’.

Dia mempunyai irisian yang besar dengan apa yang disebut sebagai motivasi intrinsik.  Motivasi yang datang dari aktivitas itu sendiri, bukan dari luar aktivitas (reward).  Motivasi intrinsik biasanya dibedakan dari motivasi ekstrinsik: dorongan yang tidak berkaitan langsung dengan aktivitas, bisa berasal dari uang ataupun sosial.

Namun, jangan lupa hobi yang dijadikan pekerjaan dengan sendirinya mempunyai ancaman untuk berkurangnya minat atau motivasi intrinsik kita terhadapnya.  Ini adalah resiko alamiah yang perlu dikelola dengan baik sebagai manusia yang bertanggung jawab.  Hobi pada dasarnya memberi kebebasan pada kita untuk melakukan atau tidak melakukan aktivitas tersebut.  Ketika ia sudah menjadi pekerjaan, dimana ada tuntutan eksternal untuk menghasilkan sesuatu, maka kebebasan untuk exit kapan pun kita mau dari aktivitas tersebut menjadi hilang.  Namun, tetap jauh lebih menyenangkan untuk melakukan sesuatu yang kita sukai daripada tidak.  Tantangannya adalah mengelolanya untuk tetap berada dalam area motivasi intrinsik kita.

Gap minat muncul pertama-tama karena kita sendiri tidak memahami diri kita, tidak memahami minat kita.  Pendidikan kita kurang mendorong kita untuk mencari tahu mengenai minat kita.  Mengenai apa yang kita suka lakukan.  Serta kemudian merumuskan menjadi sebuah profesi.  Seseorang bisa jadi cenderung bosan dengan kehidupan kantor 8 to 5.  Tetapi kalau dia pengkhawatir dan sangat tidak berani mengambil resiko, maka wirausaha bukan pilihan baginya.  Dia menghadapi avoidance-avoidance diantara kedua itu, disinilah kematangan seseorang dituntut untuk menyeimbangkan antara minat dan tanggung jawab.

Seperti juga kompetensi, minat disini bukan sekedar minat yang mentah: saya suka fotografi, saya suka melukis, dan sebagainya.  Tetapi minat yang matang: minat yang bisa kita gunakan pada sebagian besar waktu kerja kita.  Minat yang bisa kita bawa terus dalam karir kita.  Minat yang ikut tumbuh dengan kompetensi dan karir kita.  Dalam konteks itulah orang menikmati pekerjaannya dan rela menghabiskan banyak waktu di sana.

Kadang orang juga menyebut minat sebagai passion.  MPD mendefinisikan passion sebagai integrasi antara minat dan kompetensi.  Minat membawa kita pada pemilihan kompetensi yang tepat.

Pencarian minat memerlukan refleksi diri yang berkelanjutan.  Bisa mulai dari pekerjaan apa yang saya suka: yang berhubungan dengan orang lain atau tidak, yang rutin atau tidak, yang sederhana atau kompleks, indoor atau outdoor, dan seterusnya.  Dengan pemahaman yang baik akan hal tersebut dan kemudian diintegrasikan dengan kompetensi dan jalur karir kita, maka kita akan lebih mudah menggeser dari moda survival ke produktif.  Tentunya ini memerlukan waktu yang panjang bisa beberapa tahun, beberapa belas tahun bahkan ada yang sampai puluhan tahun.  Tetapi bila kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita, membesarkan organisasi kita, mengapa kita tidak sama seriusnya atau bahkan lebih serius merencanakan jalur karir kita sehinga investasi kehidupan dan kerja kita menjadi bernilai.  Tidak sekedar kerja, tetapi sebuah karir yang baik.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *