Workstyle dulu, baru Lifestyle

Comment

Blogs

Edisi 257, 26 Pebruari 2019

Apa itu workstyleWorkstyle adalah pola kerja yang kita pilih yang mendorong kita untuk mencapai produktivitas optimal.  Ia tumbuh berdasarkan motivasi intrinsik kita, motivasi yang datang dari dalam diri, bukan motivasi yang bersumber dari hadiah atau ganjaran.  Motivasi yang muncul karena kita memang menyukai jenis pekerjaan tersebut.

Dengan demikian workstyle terkait dengan variabel kerja seperti apakah pekerjaan tersebut konseptual atau praktis, outdoor atau indoor, operasional atau strategik, memerlukan kreativitas atau tidak, tingkat pacing, overload dan tekanan kerjanya, apakah menjadi karyawan atau wirausaha, dan seterusnya.

Bila workstyle terkait dengan pola kerja seperti apa yang kita inginkan, maka lifestyle terkait dengan gaya hidup. Rumah dimana dan seperti apa?  Jalan-jalannya?  Gaya pakaiannya, berlabel atau yang biasa aja?  Mobilnya?  Dan seterusnya.

Semakin tinggi lifestyle yang kita inginkan, semakin kita perlu bersedia mengorbankan workstyle kita, dalam arti bersedia berjerih payah dan merasakan berbagai tekanan yang ada untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Terdapat asumsi bahwa untuk mendapatkan lifestyle yang tinggi seseorang perlu mengorbankan workstyle-nya.  Ia perlu mengorbankan minat dan keinginannya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.  Namun, kita juga bisa melihat lifestyle kita adalah biaya untuk workstyle kita.  Dalam arti sebetulnya semakin kita bersedia untuk mengorbankan lifestyle yang tinggi, semakin kita bisa lebih leluasa mengembangkan workstyle kita. 

Membayangkan lifestyle yang kita inginkan tentu mudah saja, bahkan bisa jadi tanpa usaha, kadang pikiran kita sudah menerawang ke hal-hal tersebut.  Sementara itu untuk mendapatkan gambaran workstyle yang diinginkan memerlukan investasi waktu dan enerji untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.  Bahkan tidak jarang orang memerlukan pencarian bertahun-tahun dan mencoba beberapa jenis pekerjan sebelum menemukan jenis pekerjaan yang paling pas baginya. 

Karena menemukan workstyle memerlukan pengenalan diri mendalam, kadang orang enggan melakukan ini dan menemukan dirinya tengah bekerja pada pekerjaan yang ia benci.  Kita sering lupa bahwa reward yang didapat dari the right workstyle jauh lebih menyenangkan daripada yang didapat dari lifestyle yang tinggi.  Yang pertama bersumber dari motivasi intrinsik, yang kedua motivasi ekstrinsik.

MPD melihat produktivitas diri bukan hanya output (apa yang ingin dicapai), tetapi juga proses (bagaimana cara kita mencapainya).  Terlalu fokus di output bisa menyebabkan kita menderita karena bekerja berlebihan, sehingga fisik, bahkan juga relasi bisa terkorbankan.  Sementara itu hanya concern dengan proses tanpa optimizing output maka yang terjadi adalah pola kerja yang cenderung santai.  Sehingga hasilnya tidak maksimal.

Kebanyak orang menempuh rute mengejar lifestyle dan mengoreksi workstyle-nya kemudian.  Dalam satu titik ekstrim kadang terjadi orang berhasil sampai di puncak karir tapi ia menemukan bahwa pola kerja yang ia jalankan saat ini tidak bisa ia nikmati.  Sehingga ia merasa tidak bahagia dalam posisinya sebagai CEO.

Walaupun lebih berat di awal, namun mendisain dan mengupayakan workstyle di awal karir merupakan strategi yang lebih tepat, karena setelah itu kita tinggal mencoba mencari cara mendapatkan uang dari pekerjaan dengan workstyle tersebut.  Pekerjaan dengan workstyle yang sesuai akan lebih menjamin terjadinya keseimbangan hidup dan prestasi optimal.

Fokus pada workstyle tentu tidak selalu berarti mengorbankan lifestyle.  Warren Buffet merupakan salah satu contoh ekstrim, dan kita akan bahas di tulisan berikut.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *