Recomended Books/Videos – Manajemen Produktivitas Diri https://produktivitasdiri.co.id "Pendekatan Baru dalam Time Management" Tue, 21 Jun 2022 10:15:06 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.0.16 https://produktivitasdiri.co.id/wp-content/uploads/2019/03/cropped-mpd-site-icon-2-32x32.png Recomended Books/Videos – Manajemen Produktivitas Diri https://produktivitasdiri.co.id 32 32 The Progress Principle by Teresa Amabile dan Steven Kramer https://produktivitasdiri.co.id/the-progress-principle-by-teresa-amabile-dan-steven-kramer/ https://produktivitasdiri.co.id/the-progress-principle-by-teresa-amabile-dan-steven-kramer/#respond Fri, 26 Oct 2018 11:15:44 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1996 Edisi 238,  26 Oktober 2018

Apa manfaat ilmu psikologi bagi bisnis?  Bagaimana kalau ini:  sarjana psikologi dengan ilmunya bisa memprediksi keberhasilan/kegagalan organisasi sebelum akuntansi mengatakannya. Disadari atau tidak pasangan suami istri ini, Steven Kramer dan Teresa Amabile mencoba mengembangkan formula (baca: model) yang bisa melakukan hal tersebut.

Minat Teresa Amabile, yang pada saat itu adalah Direktur Penelitian di Harvard Business School sebetulnya pada topik kreativitas.  Telah puluhan tahun ia melakukan berbagai penelitian dan membuat berbagai tulisan terkait hal tersebut.  Namun sebuah penelitian dengan skala mega, yang menjadi basis dari buku ini, membawanya pada sebuah model yang kemudian bisa memahami inner work life (begitu ia menyebutnya) dan efeknya pada kinerja organisasi.

Tidak kurang dari 238 responden yang tersebar di dalam 26 proyek di 7 perusahaan dan 3 industri diminta untuk membuat catatan setiap harinya mengenai apa yang terjadi dan apa yang dirasakan.  Sekitar 12 000 catatan harian terkumpul sepanjang periode penelitian.  Penelitian dilakukan pada anggota proyek dalam area research & development, yang menunjukan bahwa keterlibatan kerja dan kreativitas dibutuhkan untuk bisa mendapatkan hasil yang optimal.

Inner work life didefinisikan sebagai interaksi antara persepsi, emosi dan motivasi yang dialami seseorang ketika mereka memahami dan ber-respond terhadap apa yang terjadi di tempat kerja.  Secara umum penulis meyakini efek dari inner work life adalah: orang akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik bila mereka bahagia, mempunyai persespsi positif terhadap organisasi dan orang-orang di organisasi, serta dorongan utamanya adalah motivasi intrinsik: motivasi bekerja karena pekerjaan itu sendiri (hal. 47).  Inner work life akan meningkatkan perhatikan, keterlibatan dan kecenderugan untuk bekerja keras (hal 59).

Dari penelitian ditemukan bahwa hal yang paling mempengaruhi inner work life adalah sense of progress yang ada dari sebuah pekerjaan yang bermakna, perasaan bahwa apa yang dilakukan mendatangkan hasil walaupun hasil itu tidak besar.  Sense of progress akan mempengaruhi perasaan bahwa kita sudah mencapai sesuatu, kita memiliki kemampuan untuk melakukannya (kompeten) dan kita berada pada lingkungan yang mendukung kerja kita (support) (hal. 76).

Progress merupakan faktor utama yang mempengaruhi inner work life.  Setelah progress, penulis memilah dua faktor pendukung yang disebut sebagai Faktor Katalis yang langsung terkait dengan pekerjaan, seperti adanya goal yang jelas, sumber daya yang dibutuhkan, waktu, otonomi (hal 104).  Faktor berikutnya disebut sebagai Faktor Nourishment yang terkait dengan orang, bukan pekerjaannya, seperti menunjukan respek, memotivasi, memberi rasa nyaman dan dukungan sosial dan emosi lainnya.

Kesimpulan buku ini bisa dilihat di tabel 2-2 (hal 37) yang menggambarkan komponen dari inner work life dan interaksinya dengan sistem eksternal.   Diagram 4-3 (hal 85) yang menggambarkan isi dari Progress Principle, faktor kalatis dan faktor nourishment.  Serta tabel 8-1 (hal 170) yang berisi daftar hal yang perlu diperhatikan/dilakukan oleh manajer untuk dapat memastikan penerapan hal-hal tersebut.

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  sedang

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): sedang

Level bacaan: akhir

Recommended Video/Audio

Di Talks at Google: https://www.youtube.com/watch?v=f_KxrFGhV5E

Di Ted Talks: https://www.youtube.com/watch?v=XD6N8bsjOEE

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/the-progress-principle-by-teresa-amabile-dan-steven-kramer/feed/ 0
Decide by Steve McClatchy https://produktivitasdiri.co.id/decide-by-steve-mcclatchy/ https://produktivitasdiri.co.id/decide-by-steve-mcclatchy/#respond Fri, 24 Aug 2018 03:20:24 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1961 Edisi 228, 24 Agustus 2018

Ide dasar dari buku ini ada di bab 1 nya, yaitu adanya 2 tipe motivasi manusia, memperoleh/mendapatkan dan menghindar.  Motivasi Memperoleh tentunya didorong oleh kebutuhan seseorang untuk tumbuh, untuk mencapai lebih dari apa yang sudah dicapai saat ini.  Sementara motivasi Menghindar didorong oleh insting yang paling dalam, insting untuk menyelamatkan dan menjaga diri.

Kedua motivasi tersebut kemudian akan menentukan aktivitas yang dilakukan seseorang.  Apakah seseorang melakukan aktivitas tertentu karena dorongan Memperoleh atau Menghindar.  Pada halaman 13, Steve kemudian menyebutkan ciri aktivitas Memperoleh: tidak bersifat segera, tidak harus diselesaikan (karena itu kita menemukan sebagian orang tidak tumbuh di dalam pekerjaan atau hidupnya), tidak dapat didelegasikan, dalam arti kita sendiri yang bertanggung jawab untuk mengerjakannya.  Perbandingan antara Memperoleh dan Menghindar dalam jenis aktivitasnya mirip dengan perbandingan antara Penting dan Segera di dalam kuadran Covey yang populer tersebut. (Baca kuadran penting-segera)

Pada bab 3, Steve kemudian membuat prioritas berdasarkan konsep tersebut.  Ia membaginya dalam 3 bagian: A untuk tugas Memperoleh.  Sedangkan tugas Menghindar ia bagi dua berdasarkan kepentingannya: B.  Tugas Menghindar yang bersifat memenuhi tanggung jawab peran kita, yang umumnya mempengaruhi orang lain karena itu kita perlu melakukannya dengan baik, dn orang lain akan memonitor/mencatatnya.  Dan C, tugas Menghindar yang sifatnya sehari-hari.  Termasuk di dalam B adalah berbagai tugas kantor kita.  Sedangkan tugas C meliputi tugas rutin kita terkait membersihkan rumah, memotong rambut, dan seterusnya.

Melakukan tugas Menghindar, baik B atau C, umumnya tidak akan membuat kita tumbuh, tetapi hanya membuat kita menyelesuaikan tugas kita dengan baik.  Ia semacam tugas operasional yang perlu dilakukan sehari-hari untuk membuat hidup kita berjalan dengan baik.  Kerena itu, biasanya sebagian besar aktivitas kita setiap hari terdiri atas B dan C.  Sementara A, perlu secara sadar kita masukan agar kita selalu mengalami perbaikan dalam kehidupan personal ataupun kerja kita.

Untuk memahami konsep ini, kita juga bisa mengasosiasikannya dengan perbandingan antara kecepatan dan percepatan.  Kecepatan perlu kita jaga untuk menjaga tingkat kehidupan yang kita jalani, tetapi kalau kita ingin berada di level yang lebih baik, kita memerlukan percepatan (penambahan kecepatan).  Yang menarik adalah menemukan cara untuk membiasakan percepatan pada aspek-aspek penting hidup kita.  Untuk bisa memastikan Tugas A dijalankan, maka kita perlu melakukan penjadwalan tugas tersebut dan mem-protect nya dari berbagai kepentingan.

Pada akhirnya, di bab 9, Steve mengaitkan orientasi kita pada aktivitas Memperoleh/Tumbuh ke dalam identitas kita.  Dengan berorientasi pada aktivitas tersebut, kita akan mengetahui apa yang penting bagi kita, identitas seperti apa yang kita bangun.  Dengan demikian akan lebih mudah bagi kita untuk mengambil keputusan terhadap berbagai kesempatan yang datang dan kita tidak mudah jatuh pada persaingan yang tidak perlu: seperti berlomba untuk mempunyai rumah bagus di daerah elit atau mobil terbaru atau menyekolahkan anak di sekolah elit tertentu, dan seterusnya.

Buku kecil ini (berisi 173 halaman) memang tidak banyak memberikan ide baru bagi mereka yang sudah akrab dengan konsep MPD, tetapi integrasi konsepnya pada pemilahan antara motivasi Memperoleh dan Menghindar cukup membantu memberi perpsektif yang lain dalam kita menentukan prioritas dalam hidup dan kerja kita.

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Rendah

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 75%

Level bacaan: awal

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/decide-by-steve-mcclatchy/feed/ 0
Your Brain at Work by David Rock https://produktivitasdiri.co.id/your-brain-at-work-by-david-rock/ https://produktivitasdiri.co.id/your-brain-at-work-by-david-rock/#respond Thu, 28 Jun 2018 17:01:56 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1899 Edisi 219, 29 Juni 2018

Ini buku keempat dari David Rock, namun bisa jadi ini buku utama yang menjelaskan secara baik mengenai cara bekerjanya otak kita dan bagaimana cara mengelolanya dengan optimal dalam aktivitas kerja sehari-hari.

David Rock adalah seorang konsultan manajemen.  Dari pengalamannya ia merasa salah satu hal penting yang bisa menyebabkan peningkatan kinerja seseorang adalah ketika ia dapat memahami dan mengelola aktivitas di otak.  Untuk mencapai hal tersebut, ia melanjutkan pendidikan doktornya dalam bidang neuroscience.  David memperkenalkan istilah Neuroleadership dan mendirikan pendidikan/konsultansi dalam bidang tersebut yang saat ini sudah mempunyai puluhan cabang di seluruh dunia.

Untuk mendekatkan konsepnya dalam kehidupan sehari-hari, di buku ini David memperkenalkan 2 tokoh Emily dan Paul dan pada setiap bab ia akan menceritakan apa yang dilakukan Emily atau Paul dalam menghadapi situasi sehari-hari sebelum dan setelah mereka memahami cara bekerja otak mereka.

Ia membagi bukunya menjadi tiga bagian: bagian pertama terkait dengan pentingnya pengaturan prioritas dan fokus untuk memastikan optimasi kerja kita.  Bagian kedua terkait dengan pengelolaan otak ketika menghadapi tekanan atau stres.  Bagian terakhir mengenai pentingnya pemahaman akan cara bekerjanya otak ketika kita bekerja sama dengan orang lain.

Di bagian satu ia menekankan perlunya pemahaman proses mental utama agar kita dapat mengoptimalkan eksekusi pekerjaan kita, yaitu: memahami, memutuskan, mengingat, menghafal dan menahan dorongan.  Semua proses itu dilakukan otak, dan kita perlu sadar memilih proses mana yang jadi fokus kita.

Ketika kita menghadapi tugas yang berat dan memerlukan kreativitas misalnya, kita justru perlu lebih ‘menenangkan’ otak kita, dan jangan terlalu menggunakan pre frontal cortex (bagian otak yang terkait dengan proses penalaran dan pengambilan keputusan) dengan memikirkan permasalahan tersebut terus-menerus.  Dengan membuat otak kita lebih tenang kita dapat menemukan dan membentuk pemahaman baru melalui pembentukan pola relasi baru dengan mengandalkan koneksi dengan ingatan atau pemahaman lain yang ada di bagian otak kita yang lebih ‘dalam’.  Itulah alasannya kenapa solusi dan kreativitas seringkali muncul justru ketika kita sedang tidak memikirkan hal tersebut.

Dalam kaitan dengan aktivitas sosial, David menggunakan istilah SCARF untuk menjelaskan apa yang dibutuhkan otak kita, yaitu Status, Certainty, Autonomy, Relatedness, Fairness.  Di halaman 228 ia memberikan ilustrasi penggunaan hal tersebut ketika Emily mencoba untuk mengubah perilaku anak-anaknya.  Bila kita mengupayakan terpenuhinya SCARF pada seseorang maka orang tersebut akan lebih mudah menerima masukan kita.

Kemampuan otak yang lain yang perlu kita pahami adalah terkait dengan cara bekerja otak dalam kita mengelola fokus, emosi dan relasi.  Misalnya saja dari buku ini kita paham bahwa orang lain bisa merasa tidak nyaman bila kita mempunyai emosi negatif terhadap dia walaupun kita tidak mengekspresikannya.  Dengan kata lain, terjadi komunikasi antar otak di luar kendali kita.

Buku ini berhasil membumikan berbagai hasil temuan penting dalam bidang neuroscience menjadi sesuatu yang sifatnya praktis sehari-hari.  Mengingat kemampuan mengelola otak sangat penting untuk peningkatkan produktivitas diri, maka pengetahua dari buku ini akan banyak disinggung juga dalam MPD (Manajemen Produktivitas Diri).

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Sedang

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 85%

Level bacaan: tengah akhir

Recommended Video/Audio

Presentasi David Rock di Google: https://www.youtube.com/watch?v=XeJSXfXep4M

Dan wawancaranya: https://www.youtube.com/watch?v=6eOdDAoiqco

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/your-brain-at-work-by-david-rock/feed/ 0
The Achievement Habit by Bernard Roth https://produktivitasdiri.co.id/the-achievement-habit-by-bernard-roth/ https://produktivitasdiri.co.id/the-achievement-habit-by-bernard-roth/#respond Thu, 26 Apr 2018 17:01:43 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1855 Edisi 209, 27 April 2018

Apa jadinya bila seorang Profesor engineering dari Stanford menulis sebuah buku soft skills?  Jadinya adalah sebuah buku yang unik dan menarik.  Bernard Roth, yang biasa dipanggil Bernie, adalah salah satu pelopor dari robotik dan kursus Design Thinking.  Ini buku keduanya, setelah buku pertama yang bersifat sangat teknis dan tebal tapi terjual dengan jumlah jauh di bawah buku ini.

The Achievement Habit berisi berbagai sharing pengalamannya dalam mengajarkan design thinking dan kreativitas pada mahasiswa teknik.  Untuk mendorong peserta mendobrak cara berpikirnya agar mampu menghasilkan sebuah disain produk atau bahkan me-redisain hidupnya dengan optimal, ia menggunakan berbagai pendekatan, simulasi dan permainan.

Apa kaitan achievement habit dan produktivitas diri?  Pada halaman 26, Bernie mendefinisikan achievement sebagai ‘mendapatkan kehidupan yang baik…Termasuk kemampuan mengembangkan diri untuk mengatasi berbagai tantangan hidup yang ada’.  Bila didefinisikan seluas itu, maka akan terdapat irisan dengan lingkup pembahasan produktivitas diri, walaupun tentunya dengan sudut pandang yang berbeda.

Bernie tanpa ragu-ragu mendobrak berbagai kesalahan berpikir dan excuses yang kita bangun dalam hidup kita.  Ia mulai dari menekankan pentingnya kita aware terhadap persepsi yang kita bangun (bab 1), serta kecenderungan kita untuk menggunakan excuses (bab 2).  Bahkan ia mengambil posisi lebih ekstrim lagi dengan mengatakan bahwa sebaiknya kita tidak usah berusaha mencari alasan bagi diri kita sendiri untuk menjelaskan pilihan kita.  Sebab berbagai alasan itu hanya menghabiskan waktu dan hanya bermanfaat membuat kita tenang tetapi mengaburkan kerumitan dari penyebab setiap pilihan dan keputusan kita.

Point lain yang menarik dari buku ini adalah paparannya mengenai perbedaan antara trying & doing.  Kita bisa berencana melakukan sesuatu dan mencoba menjalankannya, tetapi bila kita belum benar-benar melakukannya, maka kita sebetulnya masih berada dalam tahap trying, bukan doing.

Saya ingin menulis buku, misalnya, bagi Bernie, semua aktivitas kita dalam hal tersebut adalah trying kecuali bila kita telah duduk di depan komputer dan mulai menulis buku.  Salah satu premis dari d school (design thinking school) adalah bahwa kita sebaiknya tidak banyak menghabiskan waktu di perencanaan tetapi segera masuk ke tahap prototype, yaitu membuat versi pertama dan kemudian menyempurnakannya.

Kejujuran ‘total’ tampaknya menjadi salah satu filosofi hidup Bernie yang dicoba dibaginya lewat buku ini.  Pada Bab 6 mengenai kata-kata yang kita pilih, Bernie menekankan pentingnya mengekspresikan diri dengan jujur.  Bahkan ketika kita merasa tidak dipilih oleh rekan kita untuk bekerja dalam tim nya, Bernie menyarankan untuk tidak bertanya mengapa, tetapi langsung saja menyampaikan rasa kecewa kita, bertanya mengapa hanya akan membuat orang lain berusaha memberikan pembelaan yang tidak perlu (halaman 133).

Buku ini berisi berbagai sharing pengalaman Bernie baik sebagai pribadi maupun sebagai pengajar.  Karena kecenderungannya untuk menggunakan experiential learning dalam mengajar maka buku ini juga memberikan beberapa simulasi penggunaan metode tersebut di klas.  Berbagai pengalaman pribadi penulis juga menarik dan bermanfaat mengingat hal ini datang dari orang yang telah menjalani perjalanan yang panjang dalam hidup dan mencapai kesuksesan di bidangnya.

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Sedang

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 75%

Level bacaan: tengah akhir

Recommended Video/Audio

Presentasi Bernard Roth di Google:https://www.youtube.com/watch?v=PgC3uLPqEYA  dan Stanford: https://www.youtube.com/watch?v=CR8LQTfLvfw.

Serta wawancaranya: https://www.youtube.com/watch?v=LMwT9rAYnDw.

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/the-achievement-habit-by-bernard-roth/feed/ 0
First Things First by Roger & Rebecca Merril, and Stephen Covey (1994) https://produktivitasdiri.co.id/first-things-first-by-roger-rebecca-merril-and-stephen-covey-1994/ https://produktivitasdiri.co.id/first-things-first-by-roger-rebecca-merril-and-stephen-covey-1994/#respond Thu, 22 Feb 2018 17:01:02 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1824 Edisi 199, Jumat 23 Pebruari 2018

First Things First (FTF) adalah salah satu kebiasaan dari Tujuh Kebiasaan Manusia Effective Stephen Covey.  Buku ini menggali kebiasaan ketiga tersebut.  Kali ini Covey dibantu oleh suami istri Roger dan Rebecca Merrill. Sudut pandang dan prinsip yang dibawa Covey dari buku 7 Habits sangat mewarnai pendekatan ini.

Buku ini menekankan pentingnya menggunakan mindset principle center ataupuan quadrant II oriented dalam mengarahkan aktivitas kita sehari-hari.  Bagian pertama dari buku menekankan pentingnya meninggalkan kebiasaan hidup yang tergesa-gesa dengan meyakini isunya bukan mengerjakan lebih banyak aktivitas tetapi memilih aktivitas yang paling utama (first things first). 

Ada empat kebutuhan dan kapasitas utama manusia, yaitu to live, to love, to learn & to leave a legacy.  Empat kebutuhan tersebut, menurut buku ini, perlu digunakan untuk mengarahkan aktivitas kita sehari-hari.

Bagian kedua kemudian menggambarkan bagaimana menerapkan pengelolaan aktivitas berdasarkan kuadran II tersebut dengan menurunkannya melalui Visi/Misi, Peran, Tujuan dan Pengelolaan Mingguan.  Dengan penuangan perspektif secara jelas tersebut diharapkan setiap harinya kita dapat lebih jernih memilih aktivitas yang menjadi prioritas.

Seperti juga pada buku 7 Habits yang menekankan pentingnya pergesaran paradigma dalam mengelola relasi dari dependence ke interdependence maka bagian ke-3 buku ini menguraikan arti dari hubungan yang interdependence dan sinergi tersebut bagi pencapaian kehidupan yang optimal.

Saya menemukan bahwa lampiran A terkait dengan pembuatan Mission Statement dan lampiran B terkait dengan review literatur Manajemen Waktu juga menarik dan bermanfaat bagi para peminat pengembangan diri dalam area ini.

Buku ini dan buku GTD merupakan 2 buku utama yang menjadi dasar dari pendekatan MPD.  Kedua buku ini juga saling melengkapi.  Bila FTF sarat dengan prinsip, perspektif dan value maka GTD lebih kuat dalam pendekatan teknis dan mekanistis.  Memahami buku ini baru akan terasa lengkap bila Anda telah membaca buku 7 Habits of Highly Effective People, buku yang telah membuat Covey terkenal dan menjadi dasar dari pendekatan pelatihan dan konsultansinya.

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Sedang

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 99%

Level bacaan: tengah awal

Recommended Video/Audio

Sayangnya tidak ada satu video yang comprehensive terkait buku ini.  Kebanyakan video Covey terkait dengan 7 Habits.  Video berikut hanya sebuah video singkat yang membahas kebiasaan ke 3, First Things First sebagai bagian dari 7 Habits:  https://www.youtube.com/watch?v=ECPBPpayZVU.

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/first-things-first-by-roger-rebecca-merril-and-stephen-covey-1994/feed/ 0
Making it All Work by David Allen (2009) https://produktivitasdiri.co.id/making-it-all-work-by-david-allen-2009/ https://produktivitasdiri.co.id/making-it-all-work-by-david-allen-2009/#respond Thu, 28 Dec 2017 17:01:44 +0000 http://produktivitasdiri.co.id/?p=1786 Edisi 190, Jumat 29 Desember 2017

David Allen menulis 3 buku terkait dengan konsep Get Things Done (GTD).  Blog ini hanya akan me-review dua dari tiga buku tersebut.  Inilah buku kedua tersebut.

Buku ini melengkapi konsep yang diuraikan di GTD dengan mengelaborasi lebih detail aspek horisontal dan vertikal yang telah kita bahas di resensi GTD.  Aspek Horisontal disebut sebagai lima tahap pengendalian aktivitas.  Sedangkan aspek vertikal disebut sebagai enam tingkat perspektif penentuan prioritias.

Bila di buku sebelumnya pembahasan mengenai perspektif yang lengkap tidak dibahas dengan cukup detail, maka di sini ke enam aspek tersebut (mulai dari next actions sampai dengan purpose) dibahas per aspek mulai dari bab 12 sampai dengan 17.  Dan diringkas di Appendix vii.

Beberapa pembahasan lain yang merupakan pendalaman dari buku GTD diantaranya adalah:

  • Dalam pembahasan mengenai capturing, David membahas proses capturing pada setiap level vertikal (halaman 81 – 86).
  • Pembahasannya mengenai organizing juga dibuat dalam struktur dan diagram yang lebih sistematis sehingga lebih mudah diikuti (bab 7).
  • Pembahasan mengenai engaging (bab 9) juga dituangkan dalam diagram di halaman 179. Dalam diagram tersebut disebutkan bahwa faktor-faktor yang akan menentukan engagement adalah strategi (yang terkait dengan 6 tingkat perspektif), dan faktor pembatas: konteks, waktu dan sumber daya yang tersedia.  Serta jenis aktivitas yang akan dilakukan, apakah terkait mengeksekusi aktivitas yang sudah direncanakan, me-respond aktivitas yang baru atau meng-update
  • Review mingguan juga diperjelas dengan mengungkapkan tiga hal yang ingin dicapai dari aktivitas tersebut: get clear, get current & get creative (halaman 220), dengan ringkasannya ada di Appendix v.

Sesuai judul bukunya, Making it All Work, buku ini diharapkan menjadi panduan lebih praktis untuk dapat mengimplementasikan GTD dengan baik.  Sistematika GTD akan tergambar lebih jelas bila telah membaca buku ini.

 

Kualifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Sedang

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 99%

Level bacaan: tengah awal

 

Recommended Video/Audio

Karena pada dasarnya tidak ada perbedaan dalam referensi lebih lanjut buku ini dibandingkan GTD maka isi video dan audio yang direkomendasikan sama dengan resensi buku GTD (Edisi 184 Blog in).

]]>
https://produktivitasdiri.co.id/making-it-all-work-by-david-allen-2009/feed/ 0