The Organized Mind by Daniel J. Levitin (2014) – Recommended Books

Blogs Recomended Books/Videos

Edisi 09, 29 September 2015

The Organized Mind by Daniel J. Levitin (2014)

the-organized-mindSetiap bulan blog ini akan menguraikan isi dari sebuah buku atau ide penting dalam pembahasan mengenai produktivitas diri.  Hal ini dilakukan sebagai upaya menyediakan akses bagi peminat serius produktivitas diri untuk menggali referensi yang lebih lengkap mengenai produktivitas diri.  Saya akan mulai dengan sebuah buku dari Daniel J. Levitin, The Organized Mind.  Kenapa mulai dengan buku tersebut?  Karena kebetulan buku itu yang baru saja saya baca, jadi masih fresh…..hehehe…

Levitin, berkebangsaan amerika dan banyak berkarir di Kanada, adalah seorang ilmuwan neuroscience yang mempunyai latar belakang yang cukup unik.  Sebetulnya S1 nya diambil dari jurusan musik di Berkeley, ia menguasai beberapa instrumen musik dan juga seorang sound engineer yang membantu pemusik terkenal seperti Stevie Wonder dalam rekamannya.  Di pertengahan karirnya, dia banting setir menempuh karir di bidang yang sangat berbeda dan sukses juga di bidang tersebut sebagai dosen, peneliti dan penulis buku dalam bidang neuroscience.  Buku pertamanya menggabungkan kedua minatnya tersebut, Your Brain in Music.

Buku terbitan tahun 2014 dan setebal hampir 500 halaman ini, memang tidak membatasi diri pada topik yang terkait produktivitas diri.  Ada bagian dari buku ini yang tidak kalah menarik mengenai proses pengambilan keputusan dalam rangka memilih tindakan untuk pengobatan kita atau bagaimana caranya agar kita bisa kritis dalam mencari informasi di internet.  Namun, dalam resensi di sini tentu kita hanya akan membahas yang terkait dengan produktivitas diri.

Relatif belum ada ilmuwan dalam bidang telaah otak dan perilaku manusia yang memberikan perspektif mengenai apa yang terjadi pada otak seseorang ketika dia melakukan pengorganisasian, karenanya buku ini mendapat tempat yang khusus dalam blog ini.

Tidak kurang dari David Allen yang di dalam edisi terbaru buku Get Things Done-nya, menyebut sumbangan buku ini dalam menekankan pentingnya ‘external mind’ sehingga pikiran kita bisa fokus pada pekerjaan kita (GTD, ed 2015, hal. 277).

Buat saya yang menarik adalah penjelasan Levitin mengenai perhatian.  Diantaranya, dia mengatakan bahwa Ilmuwan neuroscience menemukan 4 komponen sistem perhatian manusia: moda melamun, moda sentral eksekutif, penyaring perhatian dan switch perhatian, yang mengalihkan antara moda melamun, waspada atau konsentrasi pada suatu tugas tertentu.

Default setting kita adalah moda melamun kita, karenanya kita memerlukan usaha, dalam bentuk terpakainya enerji ketika kita melakukan switch dari moda melamun ke yang lainnya.  Untuk dapat melakukannya dengan efektif, maka bagian dari otak yang melakukannya adalah eksekutif sentral.

Ribuan sensori masuk ke panca indra kita.  Penyaring perhatian secara otomatis melakukan tugasnya untuk menyimpan hanya yang kita anggap penting saja.  Setelah itu untuk bisa produktif maka CEO nya, sentral eksekutif atau executive control menjalankan proses mempertimbangkan beberapa pilihan tugas yang ada dan kemudian mengarahkan fokus kita pada tugas yang terpilih secara cukup lama untuk bisa mendapatkan hasil yang diinginkan.

Hal lain yang diungkap dalam buku ini adalah terkait multitasking. Terpecahnya perhatian pada umumnya menjadi tidak efektif karena perhatian kita melakukan switching terus-menerus dari satu moda ke moda lain, yang membutuhkan enerji cukup besar.  Earl Miller, ilmuwan dari MIT mengatakan bahwa otak kita tidak mampu melakukan multitask dengan baik.  Yang terjadi sebetulnya adalah berpindahnya perhatian dengan cepat, dari satu perhatian ke perhatian lainnya.

Lebih lanjut, Glenn Wilson mengatakan bahkan ketika kita sedang mengerjakan suatu tugas dan kita mendengar bunyi ping karena ada e mail yang masuk, IQ kita sudah berkurang 10 point akibat pecahnya konsentrasi tersebut.  Wilson terkenal dengan pernyataannya bahwa efek multitasking lebih buruk dari ganja terhadap kinerja kognitif kita.

Multitasking melelahkan dan bisa membuat kita disorientasi setelah waktu tertentu.  Ia menimbulkan kecemasan yang bisa mengarahkan pada perilaku agresif.  Dengan demikian, Bos yang cepat marah, bisa jadi disebabkan karena ia telah lelah melakukan multitasking atau lelah mendapat interupsi di sana-sini.

Walaupun menarik, buku ini agak berat karena pembahasannya yang ilmiah.  Bagi peminat produktivitas diri yang ingin memahami aspek ilmiah dari cara bekerja otak maka buku ini perlu dibaca.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management

Klasifikasi Buku:

Tingkat kesulitan (menggambarkan kesulitan bahasa dan pembahasan):  Tinggi

Tingkat relevansi (menggambarkan keterkaitan dengan konsep praktis produktivitas diri): 30 %

Level bacaan: advance (disarankan dibaca sebagai tingkat bacaan lanjutan)

Recomended video di youtube

Ada 2 video youtube yang terkait dengan materi buku ini, pertama adalah sharing Daniel Levitin di Google (https://www.youtube.com/watch?v=aR1TNEHRY-U),  Yang kedua sharingnya di RSA (https://www.youtube.com/watch?v=PaDmHLejKUU).  Walaupun isinya kurang lebih sama, saya pribadi lebih senang dengan yang di RSA.