Kita Hanya Diperlakukan Sebagaimana….

Blogs

Edisi 72, Jumat, 6 Mei 2016

Dalam setiap pelatihan kepemimpinan saya, saya mengalokasikan 1 sesi untuk mendiskusikan permasalahan dan tantangan yang ada di tempat kerja. Sayangnya separuh dari waktu tersebut diisi dengan complaint dan separuh dari complaint yang ada menunjukan ketidakberdayaan terhadap atasan ataupun kebijakan manajemen yang ada.

Akhirnya, saya kembali dan kembali lagi pada satu prinsip yang saya gunakan dalam situasi seperti ini, prinisipnya berbunyi, ‘kita hanya diperlakukan sebagaimana kita mengijinkan orang lain memperlakukan kita’. Artinya itu tergantung apakah kita mengijinkan atau tidak perlakuan tersebut. Dan itu tergantung seberapa jauh kita meletakan masalah kita ‘di tangan kita’.

Kalau ada orang marah-marah kita terima saja, padahal dia sudah beberapa kali melakukannya dan tanpa alasan yang jelas, ya dia akan merasa ‘nyaman’ dengan perilakunya tersebut. Dia tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut. Kalau prestasi kita baik dalam suatu organisasi, tetapi kita berada dalam manajemen yang tidak fair sehingga mempromosikan orang yang mempunyai ‘koneksi’, dan kita terima saja nasib kita. Maka begitulah nasib kita.

Contoh berikut, coba kita lihat pada perilaku ber-email kita. Kalau kita me-respond e mail orang lain dengan cepat, bahkan untuk sesuatu hal yang tidak terkait dengan prioritas kita, hanya karena kita ingin dianggap orang yang responsive dalam e mail. Apa yang akan terjadi? Orang akan mempunyai tingkat expectacy yang tinggi terhadap kita dan merasa nyaman untuk meng-email apa saja dan berharap bisa segera di-reply.

Contoh lain lagi, kalau staf Anda datang dengan kesulitan terkait tugas dia. Bos Anda datang melimpahkan pekerjaan yang sebetulnya merupakan tugasnya, dan dia tahu Anda sedang banyak pekerjaan. Kolega Anda datang meminta tolong terkait pekerjaannya yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan Anda. Dan semua orang itu Anda bantu, maka apa yang akan terjadi? Mereka selalu merasa ringan untuk ‘menimpakan’ masalahnya ke Anda dan tidak merasa ada yang salah dengan hal tersebut. Mereka tidak menghargai prioritas Anda dan mereka tidak akan memperlakukan Anda secara profesional. Inilah yang disebut kemampuan mengelola border dalam manajemen relasi

Dalam setiap relasi terdapat border/batas imajiner. Batas imajiner ini menunjukan space yang nyaman antar pihak, yang menunjukan pengalokasian hak dan kewajiban secara fair. Kadang salah satu pihak, secara egois, mencoba mendorong batas imajiner ini untuk memperbesar kenyamanan dia. Dia tidak perduli atau tidak sadar bahwa itu akan menyulitkan pihak lainnya. Nah, itulah yang terjadi dalam berbagai contoh di atas. Dan ketika kita tidak menunjukan pola relasi yang kita inginkan, maka ‘orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita membiarkannya’.

Terdapat seni dari mengelola border dalam sebuah relasi. Bila Anda mempunyai pola respond ber e mail yang nyaman buat Anda, yang menghargai prioritas Anda. Maka relasi Anda bisa ‘dididik’ untuk tidak berharap respond cepat bila ber-email karena Anda sudah mengatur prioritas Anda dalam pola email Anda.

Bila Anda memberi tahu tim Anda bahwa mereka hanya boleh mengganggu Anda pada waktu tertentu dan hanya mempunyai sekian menit setiap kali mereka datang, maka mereka akan menaati aturan tersebut dan lebih siap setiap kali melapor ke Anda, agar dapat menggunakan waktu dengan efisien. Sehingga produktivitas di dalam organisasi bisa terus ditingkatkan. Lalu, dalam kaitan dengan interupsi Bos Anda? Hm…Anda perlu terus membaca blog ini pada tulisan-tulisan berikutnya untuk bisa menemukan cara mengatasi hal penting ini.

Menjadi profesional sayangnya tidak hanya berarti melakukan apa yang menjadi tugas Anda dengan baik, ia seringkali juga berarti mengelola lingkungan Anda sehingga mereka menghargai profesionalitas Anda. Hal ini yang membedakan antara Anda diperlakukan dengan profesional atau diperlakukan ‘dengan seenaknya’.

G. Suardhika

Trainer dari Training Modern Time Management Jakarta