Procrastination, antara Perspektif MPD dan Bukan

Procrastination, antara Perspektif MPD dan Bukan

Edisi 306, 10 Maret 2020

Kebanyakan pembahasan procrastination melihat procrastination sebagai sebuah hal buruk yang perlu segera dihilangkan.  Caranya?  Disiplin diri.  Jangan manja, lakukan apa yang memang harus dilakukan.

                Eat that frog, itu adalah salah satu mantra dari Brian Tracy, salah satu trainer pengembangan diri terkenal sebagai tip untuk mengatasi procrastination.  Tracy mengatakan bila kita mendapatkan katak untuk dimakan, jangan menunda, jangan hanya melihatnya, karena semakin ditunda dan dipikir-pikir, semakin kita merasa sulit untuk melakukannya, ya… makan saja katak itu.  Eat that frog.

                Walaupun tidak se-ekstrim itu dalam menggambarkan mengenai procrastination, kebanyakan pendekatan lain mengatakan hal yang sama, just do it, just get started, mulailah dari hal yang paling sulit, jangan ditunda, dan seterusnya.

                MPD mempunyai pendekatan yang berbeda dari itu.  Pertama-tama MPD melihat procrastination sebagai pelarian agar seseorang dapat menikmati hari.  Kita bisa berasumsi manusia adalah robot, sehingga procrastination hanya dilakukan oleh ‘robot’ yang malas, dan karena itu solusinya adalah mendisiplinkan diri.  Atau kita dapat berasumsi bahwa manusia bukan robot, dan kalau melakukan sesuatu yang disukai dan bermakna, manusia sebetulnya tidak akan melakukan procrastination, karenanya kita perlu paham mengapa itu terjadi untuk dapat mengatasinya dengan baik.  Tidak sekedar memaksakan kedisiplinan.

                Sebelum lebih lanjut, tampaknya perlu diperjelas bahwa MPD tidak melihat pendekatan mendisiplinkan diri selalu buruk.  Dalam situasi tertentu, bisa jadi hal tersebut merupakan pilihan yang paling tepat.  Namun, hanya mengandalkan pendekatan itu tanpa memahami akar masalahnya terlebih dahulu.  Sama dengan mengatakan kalau Anda menemukan rintangan pada saat menyetir, maka tancap gas Anda.  Hanya itu. 

                Lalu mengapa orang procrastinate?  MPD melihat procrastination sebagai pelarian terhadap aktivitas sehari-hari yang tidak menyenangkan.  Karena manusia bukan robot, maka ia memerlukan pelarian bila harinya banyak diisi oleh aktivitas yang tidak ia sukai, tidak penting dan menimbulkan stres karena begitu berat untuk menjalankannya.  Pelarian yang dipilih bisa macam-macam.  Bisa ngemil, merokok, , bisa juga ngobrol, main games atau melakukan aktivitas menyenangkan lainnya, padahal ada yang lebih penting yang perlu dilakukan.  Yang terakhir ini yang disebut procrastination.  Semua jenis pelarian bila berlangsung terus akan menimbulkan kecanduan.

                Melihat procrastination hanya sebagai masalah ketidakdisiplinan bisa membuat seseorang ‘membenci’ dirinya karena tidak bisa seperti yang lain, tekun pada kerjaannya dan mencapai prestasi tinggi.  Padahal isuenya lebih kompleks dari itu.  Karenanya memahami akar masalahnya merupakan tahap pertama dalam pendekatan MPD.   

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close Menu
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to cs@produktivitasdiri.co.id

× Butuh info?