Task Aversiveness: Tingkat Kesulitan

Task Aversiveness: Tingkat Kesulitan

Edisi 327, 24 November 2020

Tingkat kesulitan tugas, walaupun merupakan salah satu penyebab dari munculnya task aversiveness, namun pada saat bersamaan ia merupakan faktor penting dari tumbuhnya seseorang.  Bayangkan kalau dalam berbagai tugas rutin yang dilakukan di kantor, tidak ada lagi yang menantang.  Semua sudah bisa dilakukan dengan baik.  Dalam kondisi tersebut, orang itu relatif tidak akan tumbuh.

Ada berbagai cara untuk membuat kita selalu tumbuh.  Dalam konteks tugas dan aktivitas kita sehari-hari, hal itu terkait dengan Disain Hari dan adanya tugas yang menantang.  Disain Hari terkait dengan upaya untuk memasukan berbagai aktivitas penting, aktivitas yang align dengan tujuan hidup dan karir dalam aktivitas kita setiap harinya.  Dengan melakukan hal tersebut, kita mempunyai hari yang semakin lama semakin align dengan apa yang ingin dicapai dalam karir dan hidup.  Pada umumnya, ini berarti secara rutin mengubah aktivitas atau memasukan aktivitas baru.

Pertumbuhan juga muncul dari adanya tugas menantang yang dilakukan setiap hari.  Tugas yang akan men-stretch kita ketika berusaha mencapainya.  Area stretching adalah area dimana gap yang ada antara kemampuan yang ada saat ini dengan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas, tidak terlalu besar (yang akan menimbulkan keputusasaan), namun juga tidak terlalu kecil (yang akan menyebabkan kebosanan).

Tentu tidak mudah untuk mempunyai tugas yang selalu menantang setiap hari.  Hanya dalam format on the job training, kita dapat berharap terjadinya hal tersebut.  Dalam seting tugas sehari-hari ada berbagai alasan yang menyebabkan kebanyakan tugas kita jatuh di area membosankan atau terasa tidak mungkin dicapai.  Sebut saja beberapa hal berikut ini.

Pertama, pemberian tugas dalam organisasi tidak menggunakan level kemampuan seseorang sebagai ukurannya.  Ia menggunakan kebutuhan organisasi yang menjadi porsi orang tersebut terkait posisi dan deskripsi pekerjaan.  Untuk itu pada umumnya seseorang akan melakukan pekerjaan yang sama dari waktu ke waktu sampai ia pindah posisi.  Tidak heran bila sebagian besar tugas akan jatuh pada area membosankan setelah beberapa tahun kita mengerjakannya.

Kedua, berbagai beban pekerjaan dan tuntutan organisasi yang ada kadang membuat tugas yang diberikan pada kita begitu tinggi gap dengan kemampuan kita ataupun baru sehingga kita tidak tahu akan mulai dari mana untuk bisa menyelesaikannya.  Kemampuan kita untuk belajar dengan cepat atau berkolaborasi dengan kolega ataupun staf, akan sangat menentukan keberhasilan penyelesaian.

Tingkat kesulitan tidak hanya berasal dari eksternal, seperti contoh di atas, tetapi juga internal dari diri kita sendiri.  Kita sebetulnya mempunyai kemampuan untuk mengatur kecepatan kerja dan gap stretching.  Tetapi karena satu dan lain hal, kita membuat target yang sangat tinggi sehingga bisa menimbulkan frustasi ketika berusaha mencapainya.

Memang tidak mudah menentukan kadar stretching yang pas, yang tetap membuat kita tertantang tetapi tidak membuat kita stres berat pada saat berusaha mencapainya.  Seorang pengusaha, contohnya, ketika menemukan peluang yang besar, akan berusaha untuk mencapainya walaupun itu berarti sebuah target yang tinggi yang sangat sulit untuk dicapai.  Persoalanya mungkin bukan apakah ini stretching yang pas buat seseorang, tetapi seberapa bermaknanya hal tersebut, sehingga ia rela untuk merasakan stres, merasakan ketidakseimbangan sementara untuk kemudian menyeimbangkan kembali hidupnya.

Awareness untuk menentukan kehidupan seperti apa yang ingin dicapai dan apa manfaat dan resiko dari pilihan hidup yang tengah dijalankan saat ini, membuat seseorang bisa menentukan pacing dalam aktivitas sehari-hari dan pola keseimbangan dalam hidup.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close Menu
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to cs@produktivitasdiri.co.id

× Butuh info?