Mengisi Awareness

Mengisi Awareness

Edisi 317,  21 Juli 2020

Pada tulisan sebelumnya, kita membahas perlunya awareness penuh (mindfullness) untuk menangkap kecenderungan procrastination pada saat yang tepat.  Mengupayakan awareness sebetulnya baru satu tahap dari proses pengendalian.  Ia baru sebuah proses untuk menjaga kondisi diri kita agar tetap tenang dalam berbagai masalah, tekanan, kekhawatiran yang kemudian ketenangan itu bisa kita isi dengan pertimbangan dalam memilih aktivitas secara optimal.  Proses pertimbangan apa yang kita lakukan untuk mengoptimalkan pilihan tersebut?

Pertama tentunya adanya keterkaitan dengan apa yang ingin dicapai dalam hidup (life purpose).  Untuk itu kejernihan dalam memahami Directing (https://produktivitasdiri.co.id/model-mpd-1c-directing-aspek-individu/) dan menurunkannya sampai ke aktivitas harian akan sangat menentukan. 

                Hal tersebut, ditambah dengan faktor kedua, awareness terhadap waktu dan dead line, akan membentuk pertimbangan dalam menentukan important & urgent dari pilihan aktivitas yang ada.  Keduanya sebetulnya sudah menjadi bahan pertimbangan ketika kita membuat daftar aktivitas dan jadwal kegiatan setiap harinya, tetapi perubahan situasi yang ada, seperti: anak yang sakit, bos yang datang memberitahu perubahan deadline, akan membuat perubahan prioritas.  Pada saat itulah, mindfullness akan membantu kita untuk melakukan perubahan prioritas dan mengurangi frustasi.

                Ketiga adalah faktor kondisi, terkait kondisi dan waktu yang tersedia pada saat kita akan melakukan tugas tertentu.  Memaksakan pekerjaan sulit pada saat lelah dan waktu yang terbatas hanya akan membuat frustasi saja.  Kita perlu punya pendekatan taktis agar waktu yang tersedia cukup untuk melakukan sebagian porsi yang bermakna dari pekerjaan itu.  Perlu dihindari kecenderungan menghabiskan waktu terlalu banyak untuk re-entry pekerjaan.

                Keempat adalah melakukan analisis terhadap faktor procrastination itu sendiri.  Apa yang menyebabkan keengganan kita mengerjakannya?  Bagaimana cara kita mengubah perhatian sehingga fokus pada apa yang dikerjakan, bukan terlalu lama larut dalam pilihan aktivitas ataupun emosi negatif yang ada (kemalasan, merasa tidak mampu, dan lain sebagainya)?

                Keseluruhan proses di atas sering disebut juga sebagai higher processes ataupun meta cognition, kemampuan untuk berpikir mengenai proses berpikir dan merasa yang terjadi.

G. Suardhika

Trainer dari training Modern Time Management Jakarta

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Close Menu
×

Hello!

Click one of our representatives below to chat on WhatsApp or send us an email to cs@produktivitasdiri.co.id

× Butuh info?